Pertanian

13 Varietas Padi Tahan Kering Unggul untuk Lahan Minim Air

Varietas Padi Tahan Kering

Indonesia memiliki beragam varietas padi tahan kering yang dikembangkan untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan keterbatasan air. Jenis padi ini menjadi pilihan utama petani, terutama saat musim kemarau ketika ketersediaan air irigasi menurun dan risiko gagal panen meningkat.

Dengan karakter iklim tropis, musim kemarau di Indonesia kerap berlangsung lebih panjang dibandingkan musim hujan. Kondisi tersebut menuntut petani untuk lebih selektif dalam memilih benih padi yang mampu beradaptasi dengan lingkungan minim air. 

Kehadiran varietas padi tahan kering menjadi solusi strategis agar kegiatan budidaya tetap berjalan optimal dan produktivitas lahan tetap terjaga. Pemanfaatannya pun tidak terbatas pada wilayah tertentu dan telah diterapkan di berbagai daerah dengan sistem pengairan terbatas. Untuk mengetahui apa saja jenisnya, yuk simak artikel ini lebih lanjut.

Mengenal Varietas Padi Unggul Tahan Kering

Inpago atau Inbrida Padi Gogo merupakan salah satu varietas padi unggul tahan kering yang dikembangkan untuk lahan dengan ketersediaan air terbatas. Varietas ini umumnya dibudidayakan di daerah dengan curah hujan rendah atau kondisi lahan berlereng yang kurang mampu menahan air dalam jangka waktu lama.

Saat ini, ada sekitar 19 varietas padi unggul tahan kering tipe Inpago yang telah dikembangkan dan ditanam di berbagai wilayah pertanian di Indonesia. Setiap varietas memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari bentuk bulir, pola pertumbuhan tanaman, hingga keunggulan adaptasi terhadap kondisi lingkungan kering. 

Keberagaman ini memberi petani lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan varietas padi dengan kondisi lahan dan kebutuhan produksi. Untuk mengetahui lebih jelas apa saja jenis  varietas padi tahan kering dan tips perawatannya simak terus artikel ini ya! 



13 Jenis Varietas Padi Tahan Kering

Berikut 13 varietas padi tahan kering yang dirangkum beserta keunggulan masing-masing yang dapat jadi referensi petani dalam memilih benih sesuai kondisi lahan dan ketersediaan air. 

Inpago 4

Varietas padi unggul tahan kering yang pertama adalah Inpago 4 yang pertama kali dilepas pada 2010. Nomor seleksi varietas ini adalah TB490C-TB-1-2-1. Varietas ini diseleksi dari Batutegi, Cigeulis, dan Ciherang.

Umur tanaman Inpago 4 tergolong relatif panjang, yakni sekitar 3 bulan atau ±124 hari. Bentuk tanaman tegak dengan tinggi ±134 cm dan daun bendera mendatar. Bentuk gabah lonjong berwarna kuning jerami.

Tingkat kerontokan dan kerebahan tergolong sedang. Kadar amilosa varietas ini mencapai 21,9 persen sehingga menghasilkan nasi dengan tekstur pulen. Rata-rata hasil panen sekitar 4,1 t/ha GKG dengan potensi hasil mencapai 6,1 t/ha GKG. Berat 1000 butir sekitar 25 gram.

Inpago 4 tahan terhadap beberapa ras penyakit blas dan toleran terhadap cekaman abiotik berupa keracunan Al hingga 60 ppm. Varietas padi unggul tahan kering ini dianjurkan ditanam di lahan kering subur maupun lahan Podzolik merah kuning dengan tingkat keracunan Al sedang, dengan perawatan dan pemupukan yang memadai.

Inpago 5

Inpago 5 menghasilkan nasi dengan tekstur sangat pulen. Daun benderanya miring dengan bentuk gabah ramping berwarna kuning. Berat 1000 butir mencapai 26 gram. Masa tanam ±118 hari, sedikit lebih singkat dibanding Inpago 4. 

Rata-rata hasil panen 4,0 t/ha GKG dengan potensi mencapai 6,2 t/ha GKG. Tinggi tanaman ±132 cm dengan tingkat kerontokan dan kerebahan sedang. Perbedaan utama Inpago 5 terletak pada tekstur nasi yang lebih pulen dengan kadar amilosa 18 persen. Anjuran lahan tanam sama dengan Inpago 4.

Inpago 6

Inpago 6 merupakan varietas padi unggul tahan kering yang memiliki karakter mirip dengan Inpago 4. Perbedaan terdapat pada umur tanam dan bentuk daun. Inpago 6 dapat dipanen dalam waktu ±113 hari. Daunnya berbentuk tegak miring. Rata-rata hasil panen mencapai 3,9 t/ha GKG dengan potensi hingga 5,8 t/ha GKG.

Inpago 8

Inpago 8 toleran terhadap kondisi kering dan memiliki kemiripan dengan Inpago 7. Keunggulannya adalah toleran terhadap keracunan Aluminium dan Besi. Kadar amilosa mencapai 22,3 persen dengan berat 1000 butir 27,3 gram. Rata-rata hasil panen 5,2 t/ha GKG dan potensi hasil mencapai 8,1 t/ha GKG.

Baca Juga: “ Pupuk Organik Padi: Padi Sehat Panen Meningkat

Inpago Lipigo 4

Inpago Lipigo 4 memiliki tingkat toleransi kering lebih tinggi dibanding varietas sebelumnya. Varietas ini berasal dari seleksi Way Rarem atau Vandana dan cocok ditanam di lahan kering dataran rendah hingga di bawah 700 mdpl.

Umur panen ±113 hari. Bentuk tanaman tegak dengan tinggi ±125 cm dan daun bendera agak tegak. Jumlah gabah per malai mencapai ±131 butir. Kerontokan sedang dan relatif tahan kerebahan.

Tekstur nasi pera dengan kadar amilosa tinggi, yaitu 27,9 persen. Berat 1000 butir 25,8 gram. Rata-rata hasil panen 4,2 t/ha GKG dengan potensi hasil 7,1 t/ha GKG. Varietas ini agak tahan terhadap blas ras 073.

Inpago 11 Agritan

Inpago 11 Agritan tergolong sangat tahan terhadap kondisi kering, terutama pada fase vegetatif. Umur panen ±111 hari dengan tinggi tanaman ±124 cm. Jumlah gabah per malai mencapai ±208 butir dengan bentuk gabah bulat besar berwarna kuning kotor. Kerontokan sedang dan tahan kerebahan. 

Tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa ±21,3 persen. Berat 1000 butir ±25 gram. Rata-rata hasil panen ±4,1 t/ha GKG dengan potensi hingga 6,0 t/ha GKG. Varietas ini peka terhadap keracunan Al 60 ppm serta agak rentan wereng batang coklat, namun tahan terhadap beberapa ras blas dan hawar daun bakteri.

Rindang 1 Agritan

Rindang 1 Agritan dilepas pada 2017 dan menghasilkan nasi dengan tekstur pera. Kadar amilosa mencapai ±26,4 persen. Varietas padi unggul tahan kering ini toleran terhadap naungan, agak toleran terhadap kondisi kering, dan toleran terhadap keracunan Al 40 ppm. 

Umur panen ±113 hari dengan jumlah gabah per malai ±138 butir. Berat 1000 butir ±27,6 gram. Rata-rata hasil panen 4,62 t/ha GKG dengan potensi hasil 6,97 t/ha GKG. Dianjurkan ditanam di lahan kering dataran rendah.

Rindang 2 Agritan

Rindang 2 Agritan memiliki umur panen ±113 hari. Tinggi tanaman ±138 cm dengan daun bendera agak miring. Jumlah gabah per malai ±145 butir dengan warna kuning bersih. Varietas ini menghasilkan nasi pulen dengan kadar amilosa 16,4 persen. 

Berat 1000 butir mencapai 31,3 gram. Rata-rata hasil panen 4,20 t/ha GKG dengan potensi mencapai 7,39 t/ha GKG. Varietas ini agak peka terhadap wereng batang coklat sehingga memerlukan perhatian pemupukan.

Baca Juga: “Pupuk Padi Masa Generatif untuk Meningkatkan Hasil Panen

Luhur 1

Luhur 1 cocok untuk dataran menengah hingga tinggi. Umur tanam ±124 hari dengan tinggi tanaman ±120 cm. Jumlah gabah per malai ±118 butir. Tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa ±21 persen. Rata-rata hasil panen 4,8 t/ha GKG dengan potensi hasil sekitar 6,4 t/ha GKG. Dianjurkan ditanam di lahan kering pada ketinggian 700–1000 mdpl.

Luhur 2

Umur tanam Luhur 2 sama dengan Luhur 1 dengan tinggi tanaman ±110 cm. Tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa ±24,3 persen. Berat 1000 butir ±24,6 gram. Rata-rata hasil panen 4,6 t/ha GKG dengan potensi hingga 6,9 t/ha GKG. Varietas ini memiliki ketahanan kering yang baik pada fase vegetatif.

Inpago 12 Agritan

Inpago 12 Agritan dikenal memiliki produktivitas tinggi. Rata-rata hasil panen ±6,7 t/ha GKG dengan potensi hingga 10,2 t/ha GKG. Umur tanam ±111 hari dengan jumlah gabah per malai ±164 butir. Berat 1000 butir ±26 gram dan kadar amilosa ±22,8 persen. Varietas padi unggul tahan kering ini toleran terhadap keracunan Al dan dapat beradaptasi di lahan kering subur maupun masam hingga 700 mdpl.

Situ Bagendit

Situ Bagendit dilepas pada 2003 dengan umur tanam 110–120 hari. Tinggi tanaman 99–105 cm dengan daun bendera tegak. Tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 22 persen. Berat 1000 butir 27–28 gram. Rata-rata hasil panen 3–5 t/ha GKG. Dapat ditanam di lahan kering maupun sawah.

Situ Patenggang

Situ Patenggang memiliki daun bendera menyudut 35–50 derajat terhadap batang. Gabah agak gemuk berwarna krem tua. Tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa 23,93 persen. Berat 1000 butir 26,5–27,5 gram dengan hasil panen 3,6–5,6 t/ha GKG. Varietas padi unggul tahan kering ini memiliki aroma khas, respons baik terhadap pemupukan, dan dianjurkan ditanam di lahan kering musim hujan, lahan tumpang sari, serta tanah aluvial dan podsolik hingga 300 mdpl.

Tips Merawat Varietas Padi Tahan Kering 

Meskipun termasuk varietas padi unggul tahan kering, perawatan tetap memegang peranan penting untuk memastikan pertumbuhan tanaman yang optimal. Varietas padi ini memang lebih adaptif pada kondisi minim air, namun tetap membutuhkan pengelolaan lahan, nutrisi, dan lingkungan tumbuh yang tepat. Berikut tips perawatan yang perlu diperhatikan. 

Persiapan Lahan yang Optimal

Lahan kering perlu diolah hingga gembur agar perakaran tanaman berkembang dengan baik. Struktur tanah yang baik membantu padi menyerap sisa kelembapan dan unsur hara secara lebih efisien.

Pengaturan Jarak Tanam

Jarak tanam yang tepat mengurangi persaingan nutrisi dan air antar tanaman. Selain itu, sirkulasi udara yang baik dapat menekan risiko serangan penyakit.

Manajemen Air Secara Efisien

Meskipun tergolong varietas padi tahan kering, pengairan tetap dibutuhkan pada fase-fase kritis, terutama fase vegetatif dan pembentukan malai, agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.

Pemantauan Hama dan Penyakit

Kondisi lahan kering dapat memicu stres tanaman sehingga ketahanan terhadap hama dan penyakit menurun. Lakukan pemantauan rutin dan tindakan pengendalian sejak dini.

Pemupukan yang Tepat dan Berimbang

Pemenuhan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman sangat penting untuk menjaga daya tumbuh dan produktivitas. Pemupukan yang tepat membantu varietas padi tahan kering tetap produktif meskipun dalam kondisi keterbatasan air.

Panduan Aplikasi Pemupukan Produk GDM untuk Varietas Padi Tahan Kering 

Agar varietas padi tahan kering dapat tumbuh optimal dan tetap produktif hingga masa generatif, perawatan tanaman perlu dilakukan secara menyeluruh sejak awal tanam. Pemberian nutrisi tidak hanya difokuskan saat tanaman besar, tetapi dimulai dari perendaman benih, pengolahan lahan, hingga menjelang panen. Berikut panduan perawatan dan pemupukan tanaman padi tahan kering pada lahan seluas 1 hektar.

Perendaman Benih (0 HST)

Tahap ini bertujuan meningkatkan daya kecambah dan kekuatan awal benih agar mampu beradaptasi lebih baik pada kondisi lahan kering.

  • Siapkan POC GDM Pangan dengan dosis 1 banding 20
  • Campurkan 500 ml POC GDM Pangan ke dalam 10 liter air
  • Rendam benih padi selama 10 hingga 12 jam sebelum disemai

Pengolahan Tanah (-7 HST)

Pengolahan tanah dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan membantu tanah menyimpan kelembapan lebih lama.

  • Aplikasikan GDM Black BOS sebanyak 5 kg per hektar.
  • Campurkan 250 ml GDM Black BOS ke dalam satu tangki semprot berisi air bersih.
  • Semprotkan pada tanah dalam kondisi lembap atau basah.
  • Tebarkan GDM SAME sebanyak 150 kg per hektar secara merata di atas lahan.

Pupuk Organik Cair GDM
Spesialis Pangan
  • Menyediakan Nutrisi Lengkap untuk Tanaman
  • Meningkatkan Kesuburan Tanah
  • Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Hasil Panen
  • Mencegah Serangan Penyakit
  • Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Persemaian (7 HSS)

Pemupukan pada fase persemaian membantu memperkuat bibit agar tidak mudah stres saat dipindahkan ke lahan tanam kering.

  • Gunakan POC GDM Pangan sebanyak 0,5 liter per hektar.
  • Campurkan 500 ml POC GDM Pangan ke dalam satu tangki semprot.
  • Semprotkan secara merata ke seluruh tanaman padi di persemaian.

Pemupukan I – III (10, 17, dan 21 HST)

Pada fase awal pertumbuhan vegetatif, tanaman padi tahan kering membutuhkan nutrisi seimbang untuk pembentukan akar, batang, dan daun.

  • Gunakan POC GDM Pangan sebanyak 8 liter per hektar.
  • Campurkan 500 ml POC GDM Pangan ke dalam satu tangki semprot.
  • Semprotkan secara merata ke seluruh tanaman.
  • Lakukan aplikasi pada umur 10 HST, 17 HST, dan 21 HST.

Pemupukan IV (30 HST)

Tahap ini mendukung pembentukan anakan dan memperkuat perakaran agar tanaman mampu bertahan pada kondisi cekaman air.

  • Tebarkan Pupuk Organik Granule (POG) sebanyak 150 kg per hektar secara merata.
  • Gunakan GDM Black BOS sebanyak 5 kg per hektar.
  • Campurkan 250 ml GDM Black BOS ke dalam satu tangki semprot.
  • Semprotkan secara merata di sekitar area perakaran tanaman.


Pemupukan V (40 HST)

Pemupukan lanjutan bertujuan menjaga keseimbangan nutrisi menjelang fase generatif agar pertumbuhan tanaman tetap stabil.

  • Gunakan POC GDM Pangan sebanyak 8 liter per hektar.
  • Campurkan 500 ml POC GDM Pangan ke dalam satu tangki semprot.
  • Semprotkan secara merata ke seluruh tanaman padi.

Pemupukan VI (60 HST)

Pemupukan terakhir dilakukan untuk mendukung pembentukan dan pengisian malai sehingga hasil panen lebih optimal.

  • Gunakan POG GDM sebanyak 150 kg per hektar.
  • Tebarkan pupuk secara merata ke seluruh lahan tanam.

Dengan perawatan yang terencana dan pemupukan yang tepat, varietas padi tahan kering dapat tumbuh lebih kuat, adaptif, dan menghasilkan panen yang optimal meskipun ditanam pada kondisi lahan dengan keterbatasan air.


GDM POG
Pupuk Organik Granule
  • Menambah dan Meningkatkan Nutrisi Tanaman
  • Menggemburkan dan Menyuburkan Tanah
  • Memperkaya Plankton dan Produksi Perikanan
  • Perekat Nutrisi Dalam Tanah
  • Aman Bagi Lingkungan dan Tanaman

Yuk, Optimalkan Hasil Panen Varietas Padi Tahan Kering dengan Produk GDM

Agar hasil panen lebih optimal, Anda perlu menyesuaikan pola perawatan dan pemupukan dengan kondisi tanah, iklim, serta varietas padi yang digunakan.  Melalui rangkaian produk GDM, Anda dapat mendukung kebutuhan nutrisi tanaman padi secara lebih menyeluruh, mulai dari fase awal pertumbuhan hingga menjelang panen.

Untuk memastikan penerapannya sesuai dengan kondisi lahan dan varietas padi yang ditanam, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan tim GDM. Silakan klik banner di bawah ini untuk mendapatkan rekomendasi dan panduan yang sesuai dengan kebutuhan lahan Anda.



author-avatar

About WAHYU NURWIJAYO, SP

Seorang profesional di Industri Pertanian dengan selalu menerapkan sistem keseimbangan ekologi agar budidaya pertanian berjalan efektif & efisien serta hasil produksi meningkat