Pertanian

10 Hama Penyakit Jagung & Solusi Ampuh Mengatasinya

Hama penyakit jagung

Hama penyakit jagung jadi salah satu penyebab utama turunnya hasil panen petani. Serangan organisme pengganggu dapat merusak tanaman sejak fase bibit hingga pembentukan tongkol. Jika tak dikenali sejak awal, kerusakan bisa meluas dan menyebabkan gagal panen. 

Setiap hama penyakit jagung memiliki ciri serangan dan cara penanganan yang berbeda. Ada yang menyerang bagian batang, daun, hingga tongkol jagung dengan tingkat kerusakan yang beragam. Pemahaman yang tepat bisa membantu Anda menentukan langkah yang efektif dan hemat biaya. 

Tanaman jagung yang sehat hanya bisa diperoleh jika pengelolaan dilakukan secara terencana sejak awal tanam. Maka dari itu, simak pembahasan artikel ini sampai selesai agar tanaman jagung Anda lebih terlindungi dan hasil panen lebih optimal. 

10 Hama Penyakit Jagung yang Biasa Menyerang Lahan

Serangan hama penyakit jantung bisa terjadi sejak fase bibit hingga tanaman memasuki masa pertumbuhan. Meski jumlah jenisnya cukup banyak, gejala kerusakan akibat ancaman ini bisa diamati secara langsung melalui perubahan pada daun, batang, maupun tongkol jagung. 

Dengan mengenali ciri serangannya lebih awal, petani dapat mengambil langkah pengendalian yang tepat sebelum kerusakan semakin meluas. Berikut ciri-ciri hama penyakit jagung yang bisa menyerang tanaman di lapangan.



Penggerek Batang 

Penggerek batang atau Ostrinia furnacalis adalah salah satu hama utama yang menyerang tanaman jagung. Larva hama ini menggerek bagian dalam batang jagung sehingga batang menjadi rapuh dan mudah patah. 

Selain itu, penggerek batang juga dapat menyerang tongkol jagung serta menurunkan kualitas dan kuantitas biji yang dihasilkan. Tanda serangan hama ini ditandai dengan munculnya lubang kecil pada batang serta adanya sisa kotoran larva di sekitar lubang tersebut.

Ulat Grayak 

Spodoptera frugiperda dan Spodoptera litura merupakan jenis ulat yang umumnya menyerang tanaman jagung. Ulat ini aktif pada malam hari dan bersembunyi di dalam tanaman atau di bawah tanah pada siang hari. Larva dapat memakan daun, batang, hingga tongkol jagung, bahkan bisa menyebabkan kematian tanaman. 

Ulat grayak mampu menghabiskan helaian daun hingga tersisa tulangnya saja yang menyebabkan proses fotosintesis terganggu. Jenis hama ini biasanya meninggalkan serbuk seperti gergaji pada bagian tanaman yang rusak. 

Lalat Bibit 

Lalat bibit atau Atherigona exigua menyerang tanaman jagung pada fase awal pertumbuhan. Hama ini meletakkan telurnya di bawah daun atau pada batang yang dekat dengan permukaan tanah. 

Telur yang menetas menghasilkan larva yang menggerek batang muda hingga mencapai titik tumbuh tanaman. Akibatnya batang jagung berlubang hingga pangkal, tanaman menguning, lalu membusuk dan akhirnya mati.

Ulat Tongkol 

Ulat tongkol dikenal sebagai Helicoverpa armigera dan biasanya menyerang tanaman jagung berumur 45 hingga 56 HST. Hama ini meletakkan telurnya pada rambut tongkol jagung.

Larva yang menetas kemudian memakan biji jagung yang sedang berkembang sehingga menurunkan hasil panen. Gejala serangan ditandai dengan adanya lubang pada tongkol serta banyaknya biji yang rusak atau berlubang.

Ulat Tanah

Ulat tanah atau Agrotis ipsilon menyerang tanaman jagung pada malam hari dengan memotong batang tanaman muda di permukaan tanah. Pada siang hari hama ini bersembunyi di dalam tanah sehingga sulit terdeteksi. 

Serangan umumnya terjadi pada tanaman berumur 7 hingga 21 HST dan dapat menyebabkan tanaman mati atau pertumbuhannya terhambat karena batang patah.

Baca Juga: Strategi Pengendalian Hama Ulat Grayak pada Tanaman Jagung

Belalang

Belalang merupakan hama pemakan daun yang cukup merugikan pada tanaman jagung. Hama ini menggerogoti jaringan daun sehingga proses fotosintesis terganggu dan pertumbuhan tanaman melambat. Pada tingkat serangan tinggi, belalang dapat menyebabkan kerusakan luas dan berdampak pada penurunan hasil panen secara signifikan. 

Kutu Daun

Myzus persicae adalah spesies kutu daun yang sering menjadi hama penyakit jagung. Ukurannya sangat kecil dengan warna bervariasi dari putih, hijau, hingga kehitaman. Kutu daun menyerang dengan cara mengisap cairan pada daun, batang, dan bagian tanaman lainnya. Serangan hama ini menyebabkan daun menguning, mengerut, dan akhirnya mati. Selain itu, kutu daun juga berperan sebagai vektor penyebar penyakit virus mosaik.

Bulai 

Penyakit bulai disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis yang menyebar melalui spora udara. Penyakit ini mudah berkembang pada lingkungan lembap dan hangat, terutama saat musim hujan atau pada lahan dengan irigasi berlebihan. 

Gejala serangan berupa garis sejajar berwarna putih, kuning, hingga coklat pada tulang daun yang disebut bercak klorotik. Bercak juga dapat muncul pada biji sehingga tanaman menjadi kerdil dan cepat mati.

Hawar Daun Jagung 

Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur Helminthosporium turcicum. Gejalanya diawali dengan bercak kecil berbentuk jorong berwarna hijau tua atau kelabu yang tampak basah.

Bercak kemudian membesar menjadi kecoklatan dengan bentuk menyerupai perahu sepanjang 5 sampai 10 cm dan lebar 5 sampai 15 cm. Daun yang terserang menjadi layu, kering seperti terbakar, lalu gugur sehingga proses fotosintesis menurun dan pertumbuhan tanaman terhambat.

Busuk Pelepah 

Penyakit busuk pelepah disebabkan oleh jamur Rhizoctonia zeae. Serangan diawali dengan munculnya bercak jamur berwarna salmon pada permukaan pelepah. 

Bercak lama-kelamaan berubah menjadi abu-abu dan meluas, disertai munculnya sklerotia berbentuk seperti cipratan tanah berwarna kecoklatan. Kondisi ini menyebabkan pelepah membusuk dan tanaman mengalami penurunan produktivitas.

Contoh jenis hama penyakit jagung

Strategi Efektif Mengendalikan Hama Penyakit Jagung 

Ketika gejala hama penyakit jagung mulai terlihat, tindakan cepat sangat diperlukan agar serangan tidak menyebar ke tanaman yang masih sehat. Pengendalian tak hanya bertujuan mematikan hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem lahan agar tanaman dapat optimal. 

Setiap jenis hama penyakit jagung membutuhkan cara penanganan yang berbeda sesuai karakter serangannya. Berikut panduan praktis pengendalian yang dapat Anda terapkan. 

Penggerek Batang 

Hama penggerek batang dapat dikendalikan dengan melakukan rotasi tanam, tumpang sari, penentuan waktu tanam yang tepat, dan sanitasi lingkungan. Anda juga dapat memanfaatkan musuh alami penggerek batang dari ordo Coleoptera, Archinida atau laba-laba, dan Dermaptera. Jika serangan cukup berat, penggunaan insektisida sesuai dosis yang dianjurkan dapat menjadi pilihan terakhir.

Ulat Grayak 

Ulat grayak dapat dikendalikan dengan memanfaatkan musuh alaminya seperti parasitoid Trichogramma sp., Apanteles sp., dan Telenomus romawi. Pengendalian mekanis juga bisa dilakukan dengan mengambil pupa dan larva ulat yang menyerang lalu memusnahkannya. 

Apabila serangan sudah sangat parah, Anda dapat memusnahkan tanaman yang terserang atau menggunakan insektisida yang efektif sesuai dosis. Sebaiknya gunakan insektisida alami untuk menghindari resistensi tanaman terhadap bahan kimia.

Lalat Bibit 

Untuk mengendalikan hama lalat bibit, Anda bisa menggunakan mulsa di atas lubang tanam untuk menghambat peletakan telur, serta melakukan penanaman pada awal musim hujan atau 1 hingga 4 minggu setelah hujan pertama. 

Pengendalian juga dapat diperkuat dengan memanfaatkan musuh alami berupa parasitoid seperti Trichogramma spp.. Sebagai langkah tambahan, gunakan insektisida organik yang lebih ramah lingkungan. 

Ulat Tongkol

Serangan ulat tongkol dapat dikendalikan melalui pengolahan tanah, pergiliran tanaman, atau memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma spp.. Anda juga dapat memusnahkan larva dan pupa secara manual. Jika diperlukan, aplikasikan insektisida sesuai dosis untuk menekan populasi hama.

Ulat Tanah

Pengendalian ulat tanah dapat dilakukan dengan mengumpulkan hama secara manual setiap senja lalu memusnahkannya. Pengolahan tanah dan penggunaan plastik mulsa juga cukup efektif mengurangi serangan. 

Bila cara tersebut belum optimal, Anda dapat menggunakan nematoda entomopatogen atau parasitoid. Aplikasi insektisida berbahan aktif seperti chlorpyrifos atau carbaryl di sekitar tanaman juga bisa dilakukan, namun penggunaan insektisida alami lebih disarankan untuk mencegah resistensi.

Baca Juga: “ 4 Penyakit Jagung Musim Hujan: Gejala, Penyebab, dan Solusi Praktis

Belalang 

Serangan belalang dapat dikendalikan melalui pemusnahan manual atau memanfaatkan musuh alami seperti laba-laba dan burung pemakan serangga. Alternatif lain adalah penggunaan insektisida berbahan aktif klorpirifos, profenofos, betasiflutrin, dan sipermetrin sesuai dosis yang dianjurkan.

Kutu Daun

Kutu daun dapat dikendalikan dengan menyemprot tanaman menggunakan air untuk menjatuhkan kutu serta memangkas daun yang terinfeksi. Anda juga dapat memanfaatkan predator alami seperti kumbang koksi dan lacewings. Jika serangan meningkat, gunakan insektisida berbahan aktif imidacloprid atau acetamiprid sesuai kebutuhan. 

Bulai 

Penyakit bulai dapat dicegah dengan menanam varietas jagung yang tahan, melakukan penanaman serentak, serta menerapkan pergiliran tanaman selain jagung. Untuk penanganan lebih efektif, penggunaan fungisida berbahan aktif metalaksil dapat membantu menekan perkembangan penyakit

Hawar Daun 

Pengendalian hawar daun jagung dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan serta melakukan penanaman serempak pada musim kemarau. Jika penyakit masih muncul, aplikasi fungisida sistemik dapat menjadi solusi untuk menghambat penyebaran jamur.

Busuk Pelepah 

Penyakit busuk pelepah dapat dikendalikan melalui sanitasi lahan dan alat pertanian, penanaman varietas tahan, serta penanaman jagung pada awal musim kemarau. Aplikasi Trichoderma harzianum juga efektif untuk menekan perkembangan jamur penyebab busuk pelepah.

Cara Mencegah Serangan Hama Penyakit Jantung

Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi tanaman dari serangan hama penyakit jagung. Tanaman yang mendapatkan nutrisi seimbang dan kondisi tanah yang sehat dan memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gangguan organisme penggangu. 

Kabar baiknya, pencegahan dapat dilakukan melalui strategi pemupukan terencana menggunakan rangkaian produk GDM yang terdiri dari GDM Black BOS, Pupuk Organik Cair GDM Spesialis Tanaman Pangan Sayur, dan GDM SaMe. Berikut panduan pemupukan yang dapat Anda terapkan di lahan jagung.

Pembenahan Tanah (-7) 

Pada H-7 penanaman bibit jagung, lakukan pembenahan tanah dengan menggunakan GDM SaMe dan GDM Black BOS. Langkah ini bertujuan memusnahkan hama yang bersembunyi di dalam tanah sekaligus meningkatkan dan memperbaiki nutrisi tanah agar lebih subur, gembur, serta terhindar dari berbagai penyakit tular tanah.

Pertama, taburkan secara merata GDM SaMe dosis 150/Ha kg saat pengolahan tanah. Berikutnya, aplikasikan GDM Black BOS dosis 5 kg/Ha dengan mencampur 1 gelas GDM Black BOS ke dalam satu tangki berisi air. Terakhir, semprotkan pada tanah dalam kondisi basah atau lembab.



Pupuk I (10 HST), II (17 HST), III (21 HS), IV (28 HST) 

Selanjutnya lakukan pemupukan pada umur 10, 17, 21, dan 28 HST menggunakan GDM Pangan dosis 8 liter/Ha. Caranya sangat mudah, Anda hanya perlu melarutkan 500 ml atau 2 gelas GDM Pangan ke dalam satu tangki berisi air. Setelah itu semprotkan campuran secara merata ke seluruh tanaman jagung.

Pupuk V (30 HST) 

Ketika tanaman jagung sudah berumur 30 HST, lakukan pemupukan ke-5 dengan kembali menggunakan GDM Black BOS serta GDM SaMe. Pertama, tebarkan secara merata GDM SaMe dosis 100 kg/Ha ke tanah.

Berikutnya, aplikasikan GDM Black BOS dosis 5 kg/Ha dengan mencampur 1 gelas GDM Black BOS ke dalam tangki berisi air. Terakhir, semprotkan secara merata ke sekitar perakaran tanaman jagung.

Pupuk IV (35 HST) 

Pemupukan ke-6 atau pemupukan terakhir dapat dilakukan ketika tanaman jagung berumur 35 HST menggunakan GDM Pangan dosis 8 liter/Ha. Sama seperti sebelumnya, Anda hanya perlu melarutkan 500 ml atau 2 gelas GDM Pangan ke dalam satu tangki. Selanjutnya semprotkan campuran secara merata ke seluruh tanaman jagung.


Pupuk Organik Cair GDM
Spesialis Pangan
  • Menyediakan Nutrisi Lengkap untuk Tanaman
  • Meningkatkan Kesuburan Tanah
  • Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Hasil Panen
  • Mencegah Serangan Penyakit
  • Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Perkuat Tanaman Jagung dengan Rangkaian Pupuk Organik GDM 

Dengan penerapan pemupukan yang terjadwal dan dosis yang tepat, tanaman jagung Anda akan lebih kuat menghadapi risiko serangan hama penyakit jagung sejak awal pertumbuhan. Perawatan yang konsisten juga membantu memperbaiki kualitas tanah sehingga hasil panen dapat lebih maksimal. 

Jika Anda masih ragu menentukan langkah pengendalian hama penyakit jagung atau ingin mendapatkan panduan pemupukan yang lebih tepat sesuai kondisi lahan, tim ahli GDM siap membantu. Klik banner di bawah ini untuk terhubung dengan tim GDM dapat dapatkan pendampingan agar hasil panen jagung lebih maksimal. 



author-avatar

About WAHYU NURWIJAYO, SP

Seorang profesional di Industri Pertanian dengan selalu menerapkan sistem keseimbangan ekologi agar budidaya pertanian berjalan efektif & efisien serta hasil produksi meningkat