Udang di tambak tiba-tiba mengalami penurunan nafsu makan, pertumbuhan terhambat, hingga kematian massal? Kondisi ini bisa jadi tanda penyakit AHPND pada udang yang sedang dibudidayakan. 

Penyakit AHPND pada udang adalah salah satu yang perlu diwaspadai dalam budidaya udang. Jika terlambat dikenali, dampaknya dapat mengganggu kesehatan  udang sekaligus meningkatkan risiko kerugian bagi pembudidaya. 

Nah, agar bisa mengatasi penyakit AHPND pada udang lebih dini, kenali penyebab, gejala, dan cara mencegah penyakit ini pada pembahasan berikut. 

Apa itu Penyakit AHPND pada Udang?

Penyakit AHPND pada udang atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease adalah penyakit bakteri yang menyerang hepatopankreas udang, yaitu organ yang berada di bagian kepala dan berperan penting dalam mencerna makanan serta menyerap nutrisi. 

Kerusakan pada organ ini dapat menganggu kondisi kesehatan udang dan menyebabkan kematian dalam jumlah tinggi. Penyakit ini dapat menyerang jenis udang vaname maupun udang windu. 

AHPND juga dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS) karena kematian akibat penyakit ini sering terjadi pada fase awal budidaya, terutama dalam 30 hari pertama setelah penebaran benur. 

Berdasarkan buku berjudul Pemantauan dan Monitoring Penyakit Ikan oleh Budi Rianto Wahidi, penyakit ini dilaporkan muncul di Tiongkok pada 2009. Setelah itu, penyakit ini menyebar sejumlah negara penghasil udang, seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina, serta negara lainnya. 

AHPND bukan hanya masalah di satu tambak. Penyakit ini telah menyebabkan kerugian besar bagi industri udang di Asia. Berdasarkan data yang dikutip dari jurnal Toxins, kerugian akibat AHPND mencapai US$11 miliar sepanjang 2010–2016. 

Sampai sekarang, penyakit ini masih menjadi ancaman bagi pembudidaya udang karena dapat menyebabkan kematian dan menurunkan hasil panen. Petambak Indonesia pun perlu mewaspadai ancaman tersebut. 

Selain letaknya berdekatan dengan beberapa negara yang pernah mengalami kasus AHPND, Indonesia juga memiliki industri udang yang cukup besar. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor udang Indonesia mencapai US$1,87 miliar pada 2025, hampir 30% dari total ekspor perikanan nasional. 

Karena itu, penyebaran AHPND tidak hanya berdampak pada kerugian pembudidaya, tetapi juga dapat memengaruhi produksi dan ekspor udang Indonesia. Deteksi dan pencegahan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risikonya. Nah, Anda bisa berkonsultasi dengan tim ahli GDM dengan cara klik banner di bawah ini!


Hagra Spesial Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Perikanan

Penyebab dan Gejala Penyakit AHPND pada Udang 

Penyakit AHPND pada udang disebabkan oleh strain tertentu dari bakteri Vibrio Parahaemolyticus. Bakteri ini menghasilkan dua toksin utama, yaitu PirA dan PirB. 

Kedua toksin ini dapat menyerang sel-sel hepatopankreas udang dan menyebabkan kerusakan pada organ tersebut. Akibatnya, fungsi pencernaan dan penyerapan nutrisi udang dapat terganggu, sehingga kondisi udang menurun dan risiko kematian meningkat, terutama pada fase awal budidaya. 

Oleh karena itu, pembudidaya  perlu mengenali gejalanya sejak dini agar risiko kerugian dapat diminimalkaan. Beberapa gejala AHPND pada udang yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Nafsu makan menurun, sehingga udang mengonsumsi pakan lebih sedikit dari biasanya.
  • Pertumbuhan terhambat, sehingga ukuran udang dalam satu tambak dapat terlihat tidak seragam.
  • Udang terlihat lemah atau berenang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
  • Bagian kepala terlihat lebih pucat dan dapat mengalami penyusutan atau berhenti berkembang.
  • Cangkang menjadi lebih lunak dari kondisi normal.
  • Isi perut tidak terisi secara merata, yang dapat terlihat dari kondisi saluran pencernaan udang.
  • Muncul bintik hitam pada hepatopankreas atau bagian kelenjar pencernaan.
  • Kondisi hepatopankreas memburuk akibat kerusakan yang disebabkan oleh toksin bakteri.

Pada kasus yang berat, kematian udang dapat meningkat secara tiba-tiba, terutama pada fase awal budidaya atau sekitar 30 hari pertama setelah penebaran benur. Oleh sebab itu, perubahan kecil pada nafsu makan, pertumbuhan, perilaku, maupun kondisi fisik udang sebaiknya tidak diabaikan. 

Baca Juga: 7 Tambak Udang Terbesar di Indonesia & Faktor Produktivitas di Baliknya

Kondisi Tambak Udang yang Rentan terhadap AHPND 

Risiko penyakit AHPND pada udang tak hanya dipengaruhi oleh kondisi benur udang, tetapi juga oleh lingkungan tempat udang dibudidayakan. 

Kondisi tambak yang kurang terkontrol dapat membuat udang lebih mudah stres sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri penyebab AHPND. Berikut beberapa kondisi tambak yang perlu diperhatikan: 

Padat Tebar Udang Terlalu Tinggi

Jumlah udang yang terlalu banyak dalam satu kolam dapat membuat ruang gerak dan ketersediaan oksigen menjadi terbatas. Padat tebar di atas 100 ekor/m² dan tidak didukung aerasi yang cukup, dapat meningkatkan persaingan dan membuat udang lebih mudah mengalami stres.

Salinitas Air Terlalu Tinggi

Kadar garam air juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi lingkungan tambak. Salinitas di atas 20 ppt dapat menjadi kondisi yang mendukung pertumbuhan Vibrio parahaemolyticus, yaitu bakteri yang berkaitan dengan AHPND.

Banyak Sisa Pakan dan Kotoran di Dasar Tambak

Sisa pakan, kotoran udang, dan bahan organik lainnya yang menumpuk di dasar kolam dapat menurunkan kualitas air. Tumpukan bahan organik juga dapat menjadi sumber nutrisi bagi bakteri patogen untuk berkembang. Karena itu, kebersihan dasar tambak perlu dijaga agar lingkungan tetap mendukung kesehatan udang.

Kadar Oksigen Terlarut Rendah

Udang membutuhkan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang cukup untuk menjalankan fungsi tubuhnya. Jika kadar oksigen dalam air terlalu rendah, udang dapat mengalami stres dan kondisi tubuhnya menjadi lebih lemah. Aerasi yang memadai penting untuk membantu menjaga kadar oksigen tetap sesuai kebutuhan.

Keseimbangan Ekosistem Tambak Terganggu

Kondisi air yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan pada udang. Salah satunya terjadi ketika keragaman plankton rendah, sehingga kualitas air lebih mudah berubah dan bakteri yang merugikan dapat berkembang lebih dominan. Karena itu, menjaga kondisi tambak tetap seimbang penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan udang.

Untuk mendapatkan solusi perawatan tambak yang tepat, Anda bisa konsultasi dengan tim ahli GDM dengan cara klik banner di bawah ini


GDM Banner - Testimoni - Suplemen Organik Cair Spesialis Perikanan

Cara Mengobati Penyakit AHPND pada Udang

Setelah mengetahui penyebab dan gejala AHPND pada udang, langkah selanjutnya adalah melakukan pengendalian untuk mencegah kondisi udang semakin buruk. 

Hingga saat ini belum ada obat khusus yang terbukti dapat menyembuhkan AHPND secara langsung. Meski begitu, Anda dapat melakukan cara untuk membantu menjaga kondisi udang dan mengurangi risiko penyebaran penyakit, antara lain:

Menggunakan Probiotik

Probiotik, prebiotik, dan imunostimulan dapat digunakan sebagai pendukung dalam menjaga kesehatan dan daya tahan udang. Namun, bahan-bahan tersebut belum dapat dianggap sebagai obat yang mampu menyembuhkan AHPND.

Beberapa jenis probiotik, seperti Bacillus dan Lactobacillus, dapat membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di tambak dan mendukung kualitas air. Penggunaannya juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi pertumbuhan udang.

Pemilihan jenis dan dosis produk sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tambak dan udang. Jika diperlukan, konsultasikan penggunaannya dengan tenaga ahli atau dokter hewan agar produk yang diberikan sesuai dengan kebutuhan budidaya.

Memperbaiki Kebersihan Tambak

Kebersihan tambak menjadi salah satu faktor penting dalam mengendalikan AHPND. Sisa pakan, kotoran udang, sisa molting, dan bahan organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas air dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri patogen.

Pembersihan dapat dilakukan pada area kolam serta saluran inlet dan outlet. Dasar tambak juga perlu dibersihkan secara berkala menggunakan siphon untuk mengurangi penumpukan lumpur dan bahan organik.

Untuk penggunaan kaporit atau bahan disinfektan lainnya, dosis dan cara aplikasi perlu mengikuti prosedur budidaya serta petunjuk produk yang digunakan. Penggunaan yang tidak tepat dapat berdampak pada kualitas air dan organisme yang ada di dalam tambak.

Baca Juga: Penyakit Insang Hitam pada Udang Vaname: Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Menjaga Kualitas Air dan Pemeliharaan

Kondisi lingkungan tambak memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan udang. Karena itu, parameter seperti suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), dan amonia perlu dipantau secara rutin.

Kualitas air yang buruk dapat membuat udang lebih mudah mengalami stres. Ketika udang mengalami stres, daya tahan tubuhnya dapat menurun sehingga lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.

Selain memantau kualitas air selama siklus budidaya, persiapan tambak sebelum siklus baru juga tidak boleh diabaikan. Periksa dan bersihkan dasar serta dinding kolam, saluran air, dan sumber air yang akan digunakan untuk memastikan lingkungan budidaya dalam kondisi baik.

Memberikan Suplemen Sebagai Pendukung

Suplemen dapat digunakan sebagai pendukung pemeliharaan untuk membantu menjaga kondisi dan daya tahan udang, terutama ketika kualitas lingkungan tambak perlu diperhatikan. Meski demikian, suplemen bukan pengganti pengobatan khusus untuk AHPND. 

Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah rangkaian produk GDM, seperti SOC GDM Ikan, yang dapat diaplikasikan sesuai kebutuhan budidaya dan petunjuk penggunaan produk.  

Suplemen ini dapat diaplikasikan melalui pakan setiap hari dengan dosis 10 ml/kg pakan. Selain itu, Anda juga dapat mengaplikasikan suplemen ini ke air kolam atau tambak 1 minggu sekali dengan dosis 1 liter. 


Suplemen Organik Cair GDM
Spesialis Perikanan
  • Meningkatkan Nafsu Makan
  • Meningkatkan Imunitas/Daya Tahan
  • Mempercepat Tumbuh Kembang Ikan
  • Meningkatkan Keanekaragaman Fitoplankton
  • Mengurai Berbagai Jenis Limbah dan Polutan


Cara Mencegah Penyakit AHPND pada Udang

Pencegahan penyakit AHPND pada udang bisa dilakukan sejak awal budidaya. Tujuannya untuk menjaga kesehatan udang dan mengurangi risiko penyakit. Berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan: 

Memilih Benur yang Berkualitas

Pencegahan AHPND dapat dimulai dari pemilihan benur. Gunakan benur yang sehat dan berasal dari pemasok yang terpercaya untuk mengurangi risiko masuknya patogen ke dalam tambak. 

Benur dengan status Specific Pathogen Free (SPF) dapat menjadi pilihan karena telah melalui pemeriksaan terhadap patogen tertentu. Meski demikian, benur SPF bukan berarti bebas dari semua jenis penyakit sehingga kualitas air dan pengelolaan tambak tetap perlu diperhatikan. 

Menerapkan Biosekuriti di Area Tambak

Biosekuriti penting untuk membantu mencegah masuk dan menyebarnya patogen di area budidaya. Penerapannya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan peralatan, mengontrol sumber air, serta membatasi masuknya hewan yang berpotensi membawa patogen, seperti kepiting dan burung.

Penggunaan Crab Protecting Wall dan Bird Scaring Devices juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga area tambak tetap terlindungi. 

Menjaga Kualitas Air dan Kondisi Tambak

Selama budidaya, kualitas air perlu dipantau secara rutin, termasuk suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), dan kadar amonia. Kebersihan dasar tambak juga perlu dijaga dengan mengurangi penumpukan sisa pakan, kotoran, dan bahan organik agar lingkungan budidaya tetap stabil dan mendukung kesehatan udang. 

Pemberian Suplemen Organik

Suplemen organik dapat digunakan sebagai bagian dari perawatan rutin untuk membantu menjaga kondisi lingkungan tambak dan mendukung kesehatan udang. Rangkaian produk GDM seperti SOC GDM Ikan, POG GDM, dan GDM Black BOS bisa digunakan untuk merawat kesehatan tambak udang. 

Masing-masing dapat digunakan dengan cara dan waktu pemberian yang berbeda. SOC GDM Ikan dapat dicampurkan ke pakan setiap hari dengan dosis 10 ml/kg pakan. Campurkan dengan air secukupnya, semprotkan secara merata pada pakan, lalu diamkan sekitar 15 menit sebelum diberikan kepada udang. 

Produk ini juga dapat diaplikasikan langsung ke air kolam 1 minggu sekali dengan dosis 1 liter, dengan cara disemprotkan atau disiram secara merata. POG GDM dapat digunakan untuk perawatan kolam 1 bulan sekali dengan dosis 10 kg. Taburkan produk secara merata ke seluruh area kolam agar aplikasinya lebih optimal.

GDM Black BOS dapat digunakan secara insidental, terutama ketika kadar amonia kolam tinggi atau terdapat indikasi masalah pada kondisi tambak. Gunakan sebanyak 1 kg, kemudian larutkan dan taburkan secara merata ke air kolam.



Cegah Risiko AHPND Sejak Dini, Konsultasikan Tambak Udang Anda dengan Tim GDM!

AHPND dapat berkembang cepat dan berdampak pada kesehatan hingga produktivitas udang. Jangan tunggu masalah muncul atau kondisi udang memburuk. Konsultasikan kondisi tambak dan kebutuhan pemeliharaan Anda bersama tim ahli GDM untuk mendapatkan informasi serta rekomendasi perawatan yang sesuai.

Klik banner di bawah ini untuk mendapatkan konsultasi GRATIS bersama tim GDM. Sampaikan kondisi tambak, kendala kualitas air, atau kebutuhan budidaya Anda untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih tepat dalam menjaga lingkungan tambak dan mendukung kesehatan udang.


Promo khusus SOC perikanan GDM

author-avatar

About Ir. Tri Juni Sasongko

Praktisi perikanan dan perkebunan yang banyak melakukan bimbingan dan pendampingan tehnis di bidangnya.