Pertanian

19 Daftar Bibit Padi Unggul dan Tips Pemupukan yang Tepat 

daftar benih padi unggul

Bibit padi unggul menjadi kunci utama dalam menentukan keberhasilan budidaya dan peningkatan hasil panen. Pemilihan bibit atau benih yang tepat akan mempengaruhi daya tumbuh tanaman, ketahanan terhadap hama penyakit, hingga produktivitas gabah yang dihasilkan. 

Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia terus mengembangkan beragam varietas padi berkualitas untuk mendukung kebutuhan petani di berbagai wilayah. Pengembangan ini bertujuan meningkatkan mutu serta kuantitas produksi beras nasional sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat. 

Berbagai varietas yang dirilis Kementan dikenal sebagai VU atau varietas unggul. Setiap jenis dirancang dengan karakter berbeda. Mulai dari tahan kering, tahan genangan, hingga serangan organisme pengganggu tanaman. Berikut daftar lengkap bibit padi unggul yang bisa disesuaikan dengan kondisi lahan dan budidaya Anda.

Daftar Bibit Padi Unggul 

Memahami karakter setiap bibit padi unggul sangat penting agar Anda tidak salah memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lahan. Setiap jenis bibit padi unggul memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Dengan mengenali potensi masing-masing varietas, produktivitas sawah dapat ditingkatkan secara lebih terarah dan efisien. 

Sebagai panduan Anda, berikut kami rangkum berbagai rekomendasi varietas bibit padi unggul yang banyak digunakan petani berdasarkan tipe lahan, umur panen, serta tingkat ketahanannya pada lingkungan. 



INPARA 3 

INPARI 3 termasuk bibit padi unggul yang dilepas pada tahun 2008 dan dirancang khusus untuk lahan rawa atau sawah yang sering tergenang. Varietas ini memiliki potensi hasil hingga 5,6 ton per hektar dengan rata-rata produksi sekitar 4,6 ton per hektar. Tanaman padi ini bisa tumbuh cukup stabil pada kondisi air berlebih dan cocok dikembangkan di wilayah pasang surut dan rawa lebak. 

INPARA 4 

INPARA 4 adalah bibit padi unggul yang agak tahan terhadap serangan wereng batang cokelat biotipe tiga. Varietas ini mampu bertahan pada lahan rawan banjir dan memiliki tingkat kerontokan sedang. Batangnya tergolong tahan rebah sehingga relatif aman saat memasuki fase pengisian bulir. 

INPARA 5  

INPARA 5 dilepas pada tahun 2010 sebagai varietas yang adaptif di lahan tergenang. Bibit padi ini memiliki indeks glikemik 59 sehingga cukup baik untuk kebutuhan pangan sehat. Selain itu, tanaman ini tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII sehingga risiko gagal panen dapat ditekan. 

Situ Bagendit

Situ Bagendit adalah varietas yang telah dilepas sejak 2003 dan masih banyak digunakan hingga kini. Bibit padi unggul ini tahan terhadap penyakit blas serta hawar daun bakteri patotipe III. Umur tanaman berkisar 110–120 hari dengan tingkat kerontokan sedang, serta mampu beradaptasi pada lahan yang rawan kekeringan.

INPAGO 6 

INPAGO 6 menjadi pilihan tepat untuk lahan kering atau tadah hujan. Bibit padi unggul ini dapat menghasilkan tanaman setinggi sekitar 117 cm dengan potensi hasil 5,8 ton per hektar GKG dan rata-rata 3,9 ton per hektar. Ketahanannya terhadap kondisi minim air membuat varietas ini banyak ditanam di wilayah beriklim kering.

INPAGO 7 

INPAGO 7 adalah hasil seleksi dari beberapa galur unggul dan ditujukan untuk lahan kering. Bibit padi ini tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 107 cm. Varietas ini tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe satu dan dua serta tahan penyakit blas ras 133, sehingga lebih aman dari serangan organisme pengganggu tanaman.

INPARI 5 

INPARI 5 dilepas pada tahun 2008 dengan tinggi tanaman sekitar 105 cm dengan tingkat kerontokan an kerebahan sedang. Bibit padi ini tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe satu hingga tiga. Selain itu, varietas ini juga memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri patotipe III sehingga cocok untuk sawah irigasi.

Baca Juga:  ” 6 Cara Membuat Benih Padi Cepat Tumbuh dan Panen Banyak

INPARI 7 

INPARI 7 merupakan varietas yang dilepas pada tahun 2009 dan memiliki tinggi tanaman sekitar 104 cm. Bibit padi unggul ini diketahui tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III. Produktivitasnya stabil sehingga banyak dipilih petani untuk pola tanam intensif.

INPARI 21 

INPARI 21 dihasilkan dari persilangan beberapa galur dan termasuk kelompok padi cere. Umur panen sekitar 120 hari setelah sebar dan bentuk gabah sedang berwarna kuning bersih. Bibit padi ini memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro sehingga aman untuk daerah endemik. 

INPARI 13 

INPARI 13 dilepas pada 2010 oleh Kementan sebagai varietas berdaya hasil tinggi. Potensi produksi mencapai 8 ton per hektar GKG dengan rata-rata 6,6 ton. Bibit padi unggul ini terkenal tahan terhadap wereng batang cokelat sehingga risiko kerusakan tanaman lebih rendah. 

INPARI 18 

INPARI 18 termasuk varietas dengan produktivitas sangat baik. Bibit padi unggul ini mampu memberikan potensi hasil hingga 9,5 ton per hektar GKG dengan rata-rata 6,7 ton. Tanaman tahan terhadap wereng batang cokelat dan hawar daun bakteri patotipe III. 

INPARI 31 

INPARI 31 memiliki umur panen sekitar 112 hari setelah sebar. Bibit padi unggul ini tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe satu hingga tiga serta hawar daun bakteri patotipe III. Jenis ini cocok ditanam pada lahan sawah hingga ketinggian 600 mdpl. 

INPARI 11

INPARI 11 dikenal sebagai varietas yang tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III dan penyakit blas ras 033 serta 133. Dengan ketahanan tersebut, bibit padi unggul ini sesuai untuk wilayah dengan tekanan penyakit tinggi. 

INPARI 12

INPARI 12 mempunyai keunggulan tahan terhadap blas ras 033 dan agak tahan wereng batang cokelat biotipe satu dan dua. Karakter ini membuat INPARI 12 cocok dikembangkan di sentra produksi padi intensif. 

INPARI 17 

INPARI 17 tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe satu dan dua. Selain itu, bibit padi unggul ini juga tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, IV, dan VIII sehingga lebih adaptif di berbagai kondisi sawah. 

Baca Juga: “:13 Varietas Padi Tahan Kering Unggul untuk Lahan Minim Air

INPARI 1

INPARI 1 dilepas pada tahun 2008 dan masih relevan hingga sekarang. Bibit padi unggul ini tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe dua serta hawar daun bakteri patotipe III, IV, dan VIII, sehingga aman untuk daerah endemik. 

INPARI 4 

INPARI 4 memiliki ketahanan baik terhadap hawar daun bakteri patotipe III dan VIII. Bibit padi unggul ini juga relatif tahan terhadap lahan rawan kresek sehingga cocok untuk wilayah dengan kelembapan tinggi. 

INPARI 32 

INPARI 32 dikenal sebagai salah satu varietas berproduksi tinggi. Bibit padi unggul ini mampu menghasilkan panen hingga 8-9 ton per hektar, sehingga sangat potensial untuk meningkatkan keuntungan petani. 

Conde

Conde merupakan varietas lokal yang tetap diminati hingga kini. Bibit padi unggul ini tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe satu dan dua serta memiliki cita rasa beras yang digemari konsumen.

Contoh jenis bibit padi unggul

Panduan Perawatan Bibit Unggul agar Tumbuh Optimal

Keberhasilan budidaya sangat ditentukan sejak tahap awal penanganan bibit padi unggul. bibit yang dirawat dengan benar akan menghasilkan anakan lebih banyak, perakaran kuat, dan tanaman lebih tahan terhadap hama penyakit. 

Dukungan nutrisi dari rangkaian produk GDM membantu menstimulasi pertumbuhan sejak benih, memperbaiki kesuburan tanah, hingga meningkatkan kualitas hasil panen. Berikut panduan perawatan bibit padi unggul berdasarkan tahapan budidaya di lapangan. 

Perendaman Benih untuk Menstimulasi Daya Tumbuh 

Perawatan pertama dimulai dengan memilih bibit padi unggul yang bernas dan berkualitas kemudian dilakukan perendaman untuk mengaktifkan proses perkecambahan. Rendam benih menggunakan POC GDM Spesialis Pangan dengan rasio 1:20, yakni 500 ml atau setara 2 gelas per 10 liter air untuk kebutuhan satu hektar. 

Proses perendaman dilakukan selama 10-12 jam agar benih lebih tahan terhadap serangan penyakit sejak awal tanam. Perlakuan ini juga membantu merangsang pertumbuhan akar embrio sehingga kecambah tumbuh lebih seragam. 


Pupuk Organik Cair GDM
Spesialis Pangan
  • Menyediakan Nutrisi Lengkap untuk Tanaman
  • Meningkatkan Kesuburan Tanah
  • Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Hasil Panen
  • Mencegah Serangan Penyakit
  • Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Pengolahan Tanah agar Media Tanam Lebih Subur 

Sambil menunggu proses perendaman benih, Anda bisa melakukan pengolahan lahan untuk menyiapkan media tanam yang subur bagi bibit padi unggul. Pada tahap ini, Anda bisa menggunakan dua produk yakni GDM Black Bos dan GDM SaMe Granule. Kedua produk ini berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah sekaligus mengaktifkan mikroorganisme baik. 

Aplikasinya dilakukan secara bertahap. Pertama, tebarkan GDM Granule SAME sebanyak 150 kg per hektar secara merata di permukaan tanah. Setelah itu, larutkan GDM Black Bos dosis 5 kg per hektar dengan takaran 250 ml air per tangki semprot, kemudian semprotkan pada tanah dalam kondisi lembap.

Tindakan ini membantu menggemburkan tanah, menetralkan residu racun, serta meningkatkan aktivitas mikroba baik. Dengan kondisi lahan yang lebih sehat, pertumbuhan bibit padi unggul setelah pindah tanam akan lebih optimal dan seragam.



Perawatan pada Fase Persemaian

Pada umur 7 hari setelah semai, bibit mulai membutuhkan tambahan nutrisi. Gunakan kembali POC GDM Spesialis pangan sebanyak 0,5 liter per hektar dengan takaran 500 ml per tangki semprot. 

Penyemprotan dilakukan merata ke seluruh area persemaian. Tahap ini penting untuk membentuk bibit padi unggul anakan banyak dengan batang kokoh dan daun hijau sehat sebelum dipindah tanam ke lahan utama.  

Pemupukan Masa Perawatan Bertahap 

Setelah pindah tanam, pemupukan dilakukan secara berkala agar potensi genetik bibit padi unggul dapat muncul maksimal.

Pemupukan I (Umur 10 HST)
Aplikasikan POC GDM Spesialis Pangan 8 liter per hektar. Larutkan 500 ml per tangki lalu semprotkan merata ke seluruh tanaman untuk merangsang pembentukan anakan.

Pemupukan II (Umur 17 HST)
Lakukan aplikasi dengan dosis dan cara yang sama seperti pemupukan pertama. Nutrisi pada fase ini berperan memperkuat perakaran dan mempercepat pertumbuhan vegetatif.

Pemupukan III (Umur 30 HST)
Pada tahap ini gunakan kombinasi GDM Granule SaMe dan GDM Black Bos untuk mendukung pertumbuhan bibit padi unggul. Aplikasikan GDM Granule SaMe sebanyak 100 kg per hektar dengan cara ditebar merata di permukaan tanah.

Selanjutnya, larutkan GDM Black Bos dosis 5 kg per hektar menggunakan takaran 1 gelas air per tangki, lalu semprotkan langsung ke area perakaran tanaman. Tindakan ini dapat membantu menjaga ketersediaan unsur hara di dalam tanah, memperkuat sistem perakaran, sekaligus melindungi tanaman dari serangan patogen penyebab penyakit. 

Pemupukan IV (Umur 40 HST)
Aplikasikan kembali POC GDM Spesialis Pangan 8 liter per hektar dengan takaran 500 ml per tangki. Penyemprotan merata akan mendukung pembentukan malai dan meningkatkan kualitas bulir gabah.

Yuk, Percayakan Perawatan Bibit Padi Unggul pada Rangkaian Produk GDM 

Perawatan yang dilakukan secara rutin dari tahap benih sampai tanaman berbuah sangat berpengaruh pada hasil panen. Produk GDM membantu akar dan batang padi menjadi lebih kuat, tanaman tidak mudah rebah, lebih tahan terhadap penyakit, dan tanah tetap subur untuk musim tanam berikutnya.

Jika langkah perawatan dilakukan dengan benar, bibit padi unggul akan tumbuh lebih sehat, anakan lebih banyak, dan hasil gabah pun meningkat. Yuk, gunakan produk GDM untuk mendukung pertumbuhan padi Anda agar panen lebih maksimal. Untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi lahan, Anda bisa konsultasi langsung dengan tim kami melalui klik banner di bawah ini.



author-avatar

About WAHYU NURWIJAYO, SP

Seorang profesional di Industri Pertanian dengan selalu menerapkan sistem keseimbangan ekologi agar budidaya pertanian berjalan efektif & efisien serta hasil produksi meningkat