Cara Budidaya Udang Vaname Untuk Pemula yang Telah Terbukti

Cara Budidaya Udang Vaname Untuk Pemula yang Telah Terbukti

budidaya udang vanamei

Cara budidaya udang vaname ini telah diterapkan oleh mitra kami yang bernama Pak Suratiman yang berada di Kulon Progo – Yogyakarta. Hasilnya, Pak Suratiman mampu meningkatkan hasil panen dengan ukuran udang vaname rata-rata 40cm dengan berat 28gram/ekor.

Dari kesuksesan yang dialami oleh Pak Suratiman, membuat kami ingin membagikan cara budidaya udang vaname kepada dulur-dulur. Agar dulur-dulur bisa mendapatkan cara budidaya udang vaname secara benar.

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu varietas udang yang paling banyak diminati oleh petambak. Varietas ini memiliki beberapa keunggulan di bandingkan dengan varietas udang lainnya, antara lain:

  • Pertumbuhannya lebih cepat, dengan masa pemeliharaan antara 90 – 100 hari.
  • Tingkat daya hidup/survival rate (SR) tinggi.
  • Lebih adaptif/tahan terhadap kondisi lingkungan.
  •  Lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Jika dulur-dulur ingin sukses dalam budidaya udang vaname, berikut kami jelaskan cara budidaya udang vaname secara detail.

1. Persiapan Tambak Udang Vaname

Cara budidaya udang vaname yang pertama yaitu mempersiapkan tambak udang vaname.

Persiapan tambak udang vaname bertujuan untuk mempercepat proses oksidasi yang dapat menetralkan keasaman pada tanah, membuang gas-gas beracun dan membunuh bibit hama penyakit yang ada di tanah dasar tambak.

Ada 4 cara dalam persiapan tambak, Yaitu:

A. Pengeringan Tambak

Cara awal dalam persiapan tambak udang vaname yaitu pengeringan tambak. Hal ini berfungsi untuk membunuh bakteri merugikan yang berada di dalam kolam tambak.

Setelah tambak dikeringkan, maka biarkan 3hari untuk memastikan bakteri yang merugikan didalam kolam tambak hilang dan mati.

B. Pembajakan Tambak

Setelah dasar tanah tambak telah kering, langkah selanjutnya yaitu membajak tanah pada tambak dengan kedalaman sekitar 10cm. Jika terdapat sampah pada saat melakukan pembajakan, dulur-dulur bisa membuang sampah tersebut.

Pembajakan pada tambak ini bertujuan untuk mengangkat sisa lumpur, dan menghilangkan bau busuk yang berasal dari sisa pakan yang mengendap didasar tambak.

C. Mengembalikan pH Tanah

Tingkat keasaman air tambak dapat mempengaruhi pertumbuhan udang vaname bahkan dalam tingkat yang ekstrem, derajat keasaman (pH) dapat membunuh udang vaname.

Dalam budidaya udang vaname, memerlukan tingkat keasaman 7.5 hingga 8.5 pH. Pada nilai pH 7.5 hingga 8.5 udang vaname akan dapat tumbuh dengan baik.

Namun pada umumnya, tambak memiliki tingkat keasaman dibawah 7 pH. Agar lebih akurat dalam mengetahui nilai pH, dulur-dulur bisa menggunakan alat pH meter.

Setelah mengetahui nilai pH yang akurat, maka dulur-dulur tinggal menetralkan nilai pH tersebut dengan menggunakan dolomite ataupun kapur pertanian.

Dosis pengapuran pH tanah:

  • pH <4, maka gunakan kapur sebanyak 500-1000kg/ha.
  • pH 5-6, maka gunakan kapur sebanyak 250-500 kg/ha.
  • pH 6, maka gunakan kapur  sebanyak 100-250 kg/ha.

Cara pengapuran pada tambak udang vaname yaitu dengan mengaduk kapur / dolomite secara merata, kemudian taburkan pada tambak udang. Setelah itu, diamkan tambak selama 2 sampai 3 hari.

D. Persiapan Tambak

Setelah mengembalikan pH tanah menjadi normal, maka langkah selanjutnya yaitu :

  1. Pembuangan lumpur sisa usaha budidaya sebelumnya dan pengeringan kolam.
  2. Pemberian kapur pertanian (CaCO₃) 100 – 300 Kg/Ha, kapur tohor [Ca(OH)₂] 50 -100 Kg/Ha dan Dolomit [CaMg(CO)₃] sebanyak 200 – 300 Kg/Ha.
  3. Pemupukan organic dengan pupuk kandang dan penyemprotan GDM Black BOS dosis 5 Kg/Ha secara merata.
  4. Pemupukan Urea 10 m- 20 Kg/Ha, SP 36 sebanyak 5 – 10 Kg/Ha.
  5. Pemberian saponin 10 – 12 ppm dan diamkan 2 – 3 hari untuk memberantas hama penyakit yang ada di kolam
  6. Pengisian air secara bertahap dan aplikasi Suplemen Organik Cair GDM 6 liter/Ha.
  7. Penumbuhan plankton sebagai pakan alami benur/udang dengan aplikasi rutin SOC GDM 6 liter/Ha seminggu sekali.

2. Pemilihan Benur Dan Cara Penebarannya

Pilih benur dari pembenihan yang baik dengan cirri-ciri benur yang baik adalah :

  1. Ukuran seragam, organ tubuh lengkap dan tidak cacat.
  2. Bentuk tubuh ramping memanjang.
  3. Warna tubuh jernih serta bersih dari kotoran dan lumut.
  4. Pergerakannya lincah dan aktif.

Setelah benur tiba di lokasi tambak harus diaklimatisasi dahulu untuk menyesuaikan suhu air dan alkalinitas air.  Hal ini bertujuan untuk menghindari stress benur dan meningkatkan angka kelulusan hidup benur.

Padat tebar benur berkisar antara 100 -125 ekor/M².

3. Manajemen Pakan

Pemberian pakan pellet disesuai dengan usia pertumbuhan udang vannamei yang disebar secara merata ke penjuru tambak.  Frekuensi pemberian pakan 2 – 3 kali sehari pada awal pemeliharaan karena masih tersedia pakan alami yang cukup. Seiring dengan pertumbuhan udang vannamei, frekuensi pemberian pakan  meningkat sampai 5 – 6 kali sehari  dengan jimlah 50% dari bobot udang pada awal pertumbuhan kemudian menurun sampai 3% saat menjelang panen.

Pemberian probiotik atau suplemen organic cair GDM 6 liter/hektar seminggu sekali melalui air kolam dan melalui pakan dengan dosis 10 ml/Kg pakan setiap hari. 

Manfaat SOC GDM adalah :

  1. Menjaga kualitas air tambak
  2. Menumbuhkan plankton sebagai pakan alami udang
  3. Meningkatkan kekebalan udan terhadap serangan berbagai penyakit.
  4. Menyeimbangkan bakteri dalam usus udang.
  5. Meningkatkan kecernaan pakan dan daya serap nutrisi pakan.
  6. Mempercepat panen dan menghemat pakan.

4. Manajemen Kualitas Air

Manajemen air ini berkaitan dengan volume dan kualitas air tambak.  Ketinggian air tambak dipertahankan sedemikian rupa dan hanya perlu ditambah karena adanya penguapan atau kebocoran.  Kualitas air meliputi suhu, salinitas, pH air, kandungan oksigen terlarut, kadar ammonia dan kecerahan.

Suhu air optimal untuk budidaya udang 28° – 30°C.  Pada suhu tinggi akan meningkatkan keasaman  dan reaksi NH₃ di air.  Keasaman air (pH) yang dikehendaki  7,5 – 8,5.

Kadar garam atau salinitas yang diperlukan untuk pertumbuhan udan umur 1 – 2 bulan berkisar 15 – 25 ppt.  Setelah umur lebih dari 2 bulan kadar garam dalam air 5 – 30 ppt.

Kandungan oksigen terlarut berkisar 4 -6 ppm. Upaya untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dengan menggunakan kincir air sebanyak 4 – 6 kincir setiap 0,25 hektar.

Penggunaan kincir dan aplikasi SOC GDM 6 liter/hektar seminggu sekali dapat menurunkan kadar ammonia dalam air karena sisa pakan berlebih dan hasil sekresi udang dapat diuraikan oleh bakteri-bakteri SOC GDM.

Ammonia dapat berasal dari sekresi udang maupun sisa bahan organic di air.  Ammonia ini selanjutnya akan dioksidasi dalam proses nitrifikasi.  Nitrit sangat berbahaya bagi udang karena mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan merusak jaringan.  Kadar nitrit 6,4 ppm  dapat menghambat pertumbuhan udang sampai 50%.

Kecerahan air tambak berkisar antara 25 – 45 cm secchi disc.

5. Panen dan Pasca Panen

Umur panen udang vannamei berkisar 100 hari atau berat udang mencapai 16 – 20 gram/ekor. Panen biasanya dilakukan pada malam hari untuk menjaga mutu udang vannamei, bisa dilakukan sebagian atau keseluruhan.

Kegiatan pasca panen udang vannamei meliputi :

  • Cuci udang dari lumpur dan kotoran sesegera mungkin.
  • Sortir udang berdasar ukuran dan mutunya.
  • Timbang udang vannamei.
  • Masukkan udang dalam box container bersama es secara berlapis atau campur.

GDM Info
GDM Info
Jika dulur-dulur ingin berdiskusi mengenai agrobisnis, dulur-dulur bisa langsung menghubungi tim ahli kami di 0812-600-70-600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *